Arti Sebuah Nyawa….

August 23rd, 2007 by antiar

Arti Sebuah Nyawa…

oleh Ana Tiara

Hari Minggu kemarin, sebuah stasiun televisi swasta memberitakan fenomena yang mencengangkan, masalah aborsi. Aborsi yang dilakukan oleh para perempuan-perempuan “muda” yang tidak menginginkan bayi-bayi mereka. Kalau ditanya kembali, apakah bayi-bayi itu juga mau untuk dilahirkan? Atau, lebih tepatnya mau dibunuh?

Kehidupan bebas atas nama pencarian proses hidup selalu dijadikan alasan. Ya, proses pencarian hidup atas nama cinta. Cinta yang telah membuat buta orang-orang yang tidak menggunakan mata hati untuk melihatnya. Mungkin karena begitu nikmatnya….

Mencari proses hidup? Orang yang telah melalui berbagai proses hidup akan selalu mempunyai pengalaman kognitif yang “lebih” dibandingkan orang yang tidak mengalaminya. Itulah sebabnya disarankan kepada kita semua untuk berguru kepada seseorang yang lebih “mengerti” atau yang lebih mempunyai pengalaman terhadap suatu permasalahan. Diharapkan pemahaman mereka akan lebih dalam terhadap suatu hal, kalau tidak, bisa celaka karena sama saja dengan berguru kepada orang yang “bodoh.”

Lantas, apakah kita lalu menjadi takut untuk mengalami proses hidup kita sendiri? Kita semua sudah berproses sejak kita dilahirkan. Dan, dalam mengarunginya kita sudah dihadapkan dengan pilihan melebur dalam proses itu tanpa sadar atau melebur dalam proses hidup dengan kesadaran akan suatu pencarian makna di belakangnya.

Masalahnya, ketika seseorang itu dalam pencarian proses hidup, apakah dia mampu memahami hikmah yang menjadi garis batas antara apa yang seharusnya dilakukan dengan apa yang seharusnya tidak dilakukan? Di sinilah letak pilihan, kerja keras mata hati, dan rahmat Ilahi.

Dari tayangan televisi itu, mereka tertawa begitu mudah. Ketika ditanya alasan mereka melakukan aborsi, keluarlah kalimat-kalimat sederhana yang begitu mudah dicerna. Terkadang, suara mereka seperti menahan tangis, terkadang menjadi lancang seperti tidak terjadi apa-apa.

Mereka mengaku mencari hidup. Mereka “merasa” sudah merasakan, jadi, mereka lebih tahu meskipun akibat dari perbuatan mereka merugikan diri mereka sendiri. Suatu aborsi dilakukan tidak dengan mudah. Perempuan-perempuan itu juga dihadapkan dengan pilihan hidup atau mati. Lantas, apakah dengan begitu mudah mereka diridhai? Sadarkah ketika maut mendekati, segala sesuatu atas nama pencarian proses hidup akan terhenti? Kita harus memanggil sebutan apa untuk mereka-mereka ini?

Bumi langit juga memiliki proses hidup sendiri sampai batas yang telah ditentukan. Mereka mempunyai mata hati karena jiwa-jiwa mereka hidup sesuai titah Ilahi, Allah Ta’ala. Musibah…bencana…mungkin ini salah satu sebabnya mereka menjadi marah karena jiwa-jiwa yang hidup tidak lagi mau peduli akan arti sebuah nyawa….

Jangan Marah….

August 23rd, 2007 by antiar

Jangan Marah….

oleh Ana Tiara

Sejenak, Jakarta dipenuhi para pecinta sepakbola, Zizou, begitulah panggilan sang pesepakbola dunia asal Prancis yang merupakan imigran itu yang begitu dicintai orang banyak itu. Tapi, ingatkah kita akan kenang-kenangan yang diberikannya kepada penonton pecinta sepakbola? Ya, dia menyeruduk pemain lawannya di medan pertandingan. Spekulasi berkembang di mana-mana. Ada yang bagus dan ada yang tidak bagus.

Marah…begitulah jawabannya saat ditanya kenapa saat itu dia menyeruduk pemain lawannya dari Italia. Ya, dia marah saat dia diejek lawannya itu untuk tujuan marah sehingga konsentrasinya pecah saat pertandingan penentuan saat itu. Siapa yang tidak marah kalau ibunya direndahkan atau dirinya dicap sebagai anak teroris?

Marah…salah satu bagian dari emosi ini memang paling sulit dikendalikan. Marah untuk kebaikan, sering digunakan untuk membenarkan tindakan kita yang memang sudah kita anggap benar itu. Tapi, melihat bentuk kemarahan, akan lebih baik untuk kita jika menelaahnya dulu baru bereaksi kemudian karena akibat dahsyat yang dihasilkannya tidak kurang bisa melebihi bom atom atau nuklir….

Marah adalah senjata ampuh untuk mengoyak-koyakkan pemikiran. Marah adalah jalan pintu syeitan yang dengan mudah mengalir di nadi-nadi pembuluh darah kita untuk mengaburkan apa yang sudah tertanam dengan baik. Marah adalah bentuk reaksi yang bisa menimbulkan reaksi lain, masih untung reaksi yang timbul membawa kebaikan, namun kalau sebaliknya bagaimana? Marah adalah salah satu bentuk reaksi yang diharapkan untuk menghancurkan umat oleh musuh-musuh Islam….

Setiap orang berhak marah? Rasulullah pun pernah marah saat melihat perempuan muslim berjilbab diganggu kafir Arab saat pakaian perempuan yang tertutup rapat itu dibuka ramai-ramai, kata sejarah yang saya pelajari begitu. Beliau marah, tapi penyaluran marah beliau untuk menyelamatkan umatnya dari segala sisi. Apa jadinya kita kalau marah hanya untuk ekspresi diri demi yang bernama kepuasan hati….

Hati adalah sebuah jendela tak bernama yang mempunyai tuan. Tuannya akan menggerakkannya semau dia membawanya. Kalau dia baik, insya4JJ akan terbawa baik, kalau dia buruk, na’udzubillah….

Hati yang beku tidak akan bisa marah, takut, sedih, atau mencintai. Separah dan semudah itukah ungkapan “hati beku” kita berikan kepada seseorang? Semisal Zizou juga. Keputusan adalah proses penelaahan di dalam hati yang ditransmisikan ke otak lalu dialirkan ke pembuluh-pembuluh darah di semua nadi tubuh lalu kembali ke arteri hingga menuju jantung sebagai pusatnya dan berbuah reaksi. Sejauh mana Anda bisa menahan amarah Anda?

Mencium Tangan Ibu

August 23rd, 2007 by antiar

Mencium Tangan Ibu…

oleh Ana Tiara

Ridha orang tua adalah ridha Allah. Tentunya, orang tua yang dimaksud di sini adalah orang tua yang amanah, yang memelihara anak-anak mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Kedudukan orang tua memang penting dalam Islam. Saat ditanya tentang cinta kepada orang tua, Rasulullah memberi isyarat, ibu…ibu…ibu… baru ayahmu…. Sampai-sampai ada pepatah berkata surga itu ada di telapak kaki ibu. Jika mengingat pepatah tersebut, saya tersenyum mengingat masa kecil saya, saat saya sibuk melihat-lihat kaki ibu saya untuk mencari surga…dan menangis karena tidak menemukannya.

Selanjutnya, ridha ibu terlihat keikhlasannya memberikan tangannya untuk dicium. Sedari kecil, tiap kali akan keluar rumah, saya selalu mencium tangan ibu saya. Dari situ, saya bisa merasakan ibu ridha atau tidak karena saat mencium tangannya, saya bisa melihat tatapan ibu saya dalam mengantarkan saya pergi. Hati menjadi tenang kalau restu ibu mengiringi perjalanan aktivitas selama satu hari itu. Pernah, pada suatu hari, saya terburu-buru pergi sampai pamit hanya dengan ucapan dan salam saja. Ternyata, hati tidak tenang, dan saya pun pulang lagi untuk mencium tangan ibu. Tetap saja, terlambat juga ujung-ujungnya.

Menghormati orangtua, tentu banyak caranya, dan semuanya itu bukan saja hanya sekadar formalitas. Menghormati orang tua adalah salah satu bentuk cinta yang dapat dilakukan seorang anak. Cinta hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang mempunyai hati nurani yang mengerti. Dan, cinta hanya bisa diungkapkan oleh orang-orang yang memiliki sifat mulia yang luar biasa. Tidak semua orang mengerti cinta karena sifatnya yang memang tidak kasat mata, tidak bisa dilihat, tapi bisa diekspresikan dan dirasakan.

Tidak semua orangtua juga mengerti bentuk cinta. Seringkali ungkapan cinta dilakukan dengan cacian, pukulan, umpatan, siksaan lainnya. Ujung-ujungnya hanya akan menimbulkan sakit hati dan terputusnya silaturahmi hubungan darah. Rasulullah melaknat orang tua yang berperilaku seperti binatang. Tapi, sekali lagi, mereka-mereka yang tidak bisa mengekspresikan bentuk cinta dengan nyata, hanyalah orang-orang yang juga tidak merasakan bentuk cinta yang sesungguhnya. Hanya sebuah kemengertian dari orang yang berjiwa besar yang sanggup menjawab bentuk-bentuk cinta itu.

Sampai matinya, hubungan orangtua dan anak tidak akan terputus. Keduanya saling terpaut dalam keselamatan. Salah satu cara untuk membuat orang-orang yang kita “cintai” selamat adalah dengan mendapatkan ridhanya. Dan, salah satu ridha yang paling mudah kita lakukan adalah dengan mencium tangan ibunda tercinta yang telah melahirkan dan memelihara kita, lepas dari kekurangan mereka dalam kedudukan mereka sebagai orangtua. Jadi, apa salahnya kalau kita berbagi cinta dan keselamatan dengan mencium tangan ibunda kita sendiri.

Depok, Rajab 1428 H, 21:41

–AT–